KoranSidoarjo.id, — Puluhan santri di Sidoarjo masih harus menjalani perawatan medis di Rumah Sakit (RS) Siti Hajar akibat dugaan keracunan makanan pasca mengonsumsi menu yang disediakan penyedia Satuan Pelayanan Bergizi (SPBG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Salah seorang santri korban, Muzakki, menuturkan bahwa ia merasakan gejala mual, pusing, hingga sakit perut yang hebat tidak lama setelah menyantap hidangan tersebut.”Kemarin itu perut berat, mual, sama kepala pusing,” ujar Muzakki saat ditemui di ruang perawatan RS Siti Hajar, Kamis (3/9/2026).
Muzakki membeberkan bahwa paket menu yang dikonsumsi sebelum kejadian terdiri dari telur orak-arik, tempe, tumis kacang panjang dan jagung kecil, serta buah apel. Meski sempat lemas, kondisinya kini berangsur membaik usai mendapat penanganan medis maraton.
Wali Santri Minta Pengelolaan Makanan Ditarik ke Pesantren
Kejadian ini memicu kekhawatiran mendalam dari para wali santri. Septian, orang tua dari santri bernama Rafif, mengaku kaget saat pertama kali mendengar kabar musibah tersebut dari sesama wali murid ketika sedang bekerja. Ia pun langsung bergegas menuju rumah sakit sejak Selasa malam.
Septian berharap ke depannya pihak pengelola pondok pesantren dapat mengambil alih proses penyediaan makanan secara mandiri guna menjamin higienitas dan kesehatan para santri.
“Kalau kayak gini mending dari pondoknya langsung. Mending kita nambah biaya daripada nanti kenapa-napa, yang penting kesehatannya,” tegas Septian.
Khofifah Soroti Jeda Keterlambatan Pengiriman Makanan
Menanggapi peristiwa tersebut, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau langsung kondisi para korban di RS Siti Hajar. Khofifah mengonfirmasi terdapat 27 santri yang mendapat perawatan rawat inap.
“Dari 27 pasien, 24 insyaAllah clear pagi ini bisa pulang. Tiga pasien masih menunggu observasi lagi, tapi mudah-mudahan sore juga bisa pulang. Jadi insyaAllah mereka sudah dalam kondisi baik,” terang Khofifah.
Berdasarkan hasil penelusuran awal, Khofifah menjelaskan bahwa program SPBG tersebut sebenarnya melayani 18 unit penerima manfaat, di mana mayoritas pengiriman berjalan aman. Namun, masalah timbul akibat adanya jeda keterlambatan durasi distribusi makanan pada unit pesantren tersebut.
“Bedanya adalah pada masa pengiriman SPBG ke titik penerima manfaat. Kalau selesai dimasak jam 05.00, lalu jam 07.00 diantar dan jam 10.00 sudah dimanfaatkan, ini semua aman,” jelasnya.Masalah muncul ketika makanan baru dikirim sekitar pukul 11.00 WIB dan baru dikonsumsi santri pada rentang waktu pukul 12.30 hingga 13.00 WIB.
Jeda waktu yang terlalu lama antara proses memasak dan pengonsumsian diduga kuat menjadi pemicu menurunnya kualitas makanan.Atas kejadian ini, Khofifah menegaskan pentingnya evaluasi total dan pengawasan ketat di seluruh lini rantai pasok distribusi makanan agar kejadian serupa tidak terulang kembali di Jawa Timur.
