KORANSIDOARJO.ID, — Lahan tidur seluas sekitar 5.000 meter persegi di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Surabaya di Porong, Sidoarjo, kini berubah menjadi area pertanian produktif. Lewat tangan dingin para warga binaan, lahan tersebut berhasil menghasilkan ratusan kilogram komoditas jagung.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Jawa Timur, Kusnali, memimpin langsung prosesi panen bersama Kepala Lapas Kelas I Surabaya, Sohibur Rachman, Kamis (10/9/2026) sore. Jajaran pejabat pemasyarakatan turun langsung ke sawah memetik hasil budidaya warga binaan yang difasilitasi melalui program Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE).
Kusnali menyampaikan bahwa pemanfaatan area ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan ruang bukan halangan untuk menghasilkan karya produktif dan bernilai ekonomis.
“Kita manfaatkan lahan yang ada semaksimal mungkin. Di sini ada area 5.000 meter persegi dan ini sudah panen yang kedua kalinya. Artinya, teman-teman di Lapas Kelas I Surabaya terus berproses dan produktif meski di tengah keterbatasan,” ujar Kusnali di sela-sela kegiatan panen.
Hasil Panen Meningkat dan Tanam Varietas Ungu

Pada siklus panen kedua ini, volume komoditas yang dipetik melonjak drastis mencapai sekitar 400 kilogram. Angka ini meningkat signifikan dibanding hasil panen perdana dua pekan sebelumnya yang mencatatkan kisaran 250 kilogram.
Menariknya, warga binaan tidak hanya membudidayakan jagung manis biasa, tetapi juga sukses mengembangkan varietas jagung pulut berwarna ungu. Komoditas langka ini dikenal memiliki tekstur yang kenyal serta cita rasa manis khas yang tinggi peminat.
Kusnali menegaskan bahwa hasil ketahanan pangan dari lapas maupun rutan tidak semata-mata berorientasi pada aspek bisnis, melainkan diutamakan untuk mendukung kecukupan gizi penghuni lapas.
“Sesuai arahan Bapak Menteri, hasil ketahanan pangan dari lapas maupun rutan ini minimal 5 persen disuplai untuk kebutuhan bahan makanan warga binaan di dalam. Kalau sisanya bisa diserap atau dijual ke vendor, tentu hasilnya akan jauh lebih maksimal,” tegas Kusnali.
Bekal Keterampilan Konkret bagi Warga Binaan
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas I Surabaya, Sohibur Rachman, menegaskan komitmennya untuk terus mengoptimalkan setiap jengkal lahan kosong di area lapas demi program pembinaan berkelanjutan.Menurut Sohibur, aktivitas bercocok tanam memberikan bekal ilmu agribisnis yang sangat berguna ketika masa pidana warga binaan berakhir kelak.
“Kami berupaya maksimal agar program pembinaan kemandirian melalui Sarana Asimilasi dan Edukasi ini berjalan secara berkelanjutan. Selain mendukung program ketahanan pangan pemerintah, kami ingin memastikan para warga binaan mendapatkan bekal keterampilan konkret di bidang pertanian yang bernilai ekonomis saat kembali ke masyarakat,” terang Sohibur.
Pemanfaatan lahan tidur di Lapas Porong menjadi cerminan bahwa pembinaan pemasyarakatan kini berjalan humanis, mandiri, dan berorientasi pada penciptaan ketahanan pangan daerah.
